Sports




Refleksi diri saya dari puisi Seonggok Jagung Karya ,W.S Rendra




Seonggok Jagung
Karya W.S. Rendra

Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya!
Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibu kota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata
disini aku merasa asing dan sepi



saya pikir puisi tersebut adalah sebuah tamparan keras terhadap pendidikan di Indonesia saat ini, apa yang di tulis oleh wendra tersebut sungguh sangat menyentuh hati saya sendiri selaku seorang peserta didik dan itu pun sangat mengena di hati. Pendidikan yang seharusnya memberikan hasil yang bagus buat masyarakat dan itu pun menjadi  harapan besar kedepannya, dan apakah semua itu benar –benar sudah terlaksana dengan baik, atau hanya sekedar wacana dan simbol dari tujuan pendidikan saja namun kenyataannya tidak lah seperti itu seperti yang saya alami sendiri dan beberapa dari teman di sekitar saya dan terihat dari semakin tingginya terdapat pengangguran di Indonesia itu adalah bukti nyata dari gagalnya pendidikan untuk memberikan lapangan pekerjaan ke pada masyarakat. setelah pendidikan itu berhasil saya selesaikan seharusnya itu bisa menjadi harapan besar buat saya namun setelah pendidikan itu berhasil saya selesaikan malahan hal itu membuka masalah baru buat saya kedepannya karena memang tidak ada pilihan lain selain melanjutkan pendidikan ke Universitas karena jagung ( ilmu ) yang saya punya tidak bisa mengantarkan saya untuk siap bertarung dengan dunia yang sebenarnya dan sekolah hanya menjadi sebuah loncatan untuk melanjutkan kejenjang selanjutnya bukan di bentuk untuk menjadikan manusia yang siap tempur, jikalau seandainya mereka mampu dalam segi kemampuan ataupun pengetahuannya tapi saya tidak yakin mereka semua mampu dalam segi materi karena bagaimanapun pendidikan tidak perna terlepas dari hal yang namanya materi dan pendidikan di jenjang perkuliahan tidak mampu di nikmati oleh semua orang, sementara mereka belum siap untuk mengembangkan jagung yang di miliki, jadi ada ilmu tapi tidak tahu mau di apakan,  dan persaingan ijazah itu menjadi sebuah alasan penting kenapa kita perlu melanjutkan pendidikan, karena seperti yang sama-sama kita ketahui situasi yang terjadi di negara kita saat sekarang ini adalah kemampuan dan kepintaran seseorang di tentukan oleh seberapa banyak gelar yang kamu miliki,  seperti yang say kutip dari pengamat politik yaitu Rocky Gerung  pada sebuah acara diskusi di ILC bahwasanya “ ijazah hanyalah sebuah bukti bahwa seseorang itu perna sekolah, bukan perna berfikir “ statmant itu menurut saya benar karena seperti banyaknya pengangguran sarjana yang terdapat di Negara kita saat sekarang ini dan itu  membuktikan bahwa Sekolah tinggi pun tidak akan menjamin engkau akan mendapatkan pekerjaan yang baik, karena pendidikan di sekolah atau Universitas  itu hanya mengajarkan kamu menjadi manusia yang penghafal tapi bukan memahami sehingga setelah berada pertempuran yang sebenarnya ( dunia pekerjaan) kita tidaklah sanggup dan tidak tahu apa yang harus di lakukan dan semua itu terasa buta dan tak ada jalan cerah, dan memang ternyata benar bahwa pendidikan itu tidak akan menjamin kamu mampu berkembang di dalam masyarakat, seharusnya jagung ( ilmu ) yang saya dapatkan itu bisa saya kembangkan untuk menjadi lahan pencarian saya, namun tidak ada jalan untuk saya mengembangkan jagung tersebut.
            Setelah tamat dari SLA tidak ada yang benar-benar bisa saya andalkan sehingga tidak ada pilihan lain selain melanjutkan pendidikan itu kejenjang perkuliahan jika saya ingin dan mau sejajar dengan dalam segi gelar untuk bersaing bersama para pejuang lainnya. Kemudian dari masalah itu timbullah beberapa pertanyaan di fikiran saya, sebenarnya semua ini salah siapa apakah kesalahan itu berasal dari saya sendiri ataukah semua itu berasal dari lembaga pendidikan yang saya ikuti dalam hal ini adalah peraturan yang di buat oleh pemerintah, jika hari ini saya bisa katakan bahwa semua ini terjadi karena kelalaian dan kemalasan saya dalam menekuni pembelajaran atau ketidak giat nya saya dalam belajar mungkin secara matematis bahwa itu ada juga benarnya, kemudian setelah itu hadir lagi pertanyaan, bukan ka tugas dari sebuah lembaga pendidikan adalah sebuah upaya untuk mengubah semua itu, dan itu pun saya fikir salah satu tujuan dari kedua orang tua saya untuk memasukkan saya kesekolah adalah untuk mengubah pola pikir dan mempersiapkan diri untuk berjuang di masa depan. Kemudian jikalau itu tidak berhasil semua itu kembali lagi pada pertanyaan awal yang lebih besar sebenarnya semua ini salah siapakah ?
Sementara tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah :

Tujuan Pendidikan (Kemdiknas):
"Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
.
            Kembali lagi pada sajak puisi yang di tulis oleh Rendra dan itu pun di tulis sekian tahun yang lalu tahun 1975. Jika seandainya masalah itu masih di temukan sekarang dan terutama oleh saya sendiri selaku pelajar kemudian masih pantaskah jika seandainya kita katakan bahwa itu adalah salah dari masyarakat, sementara hal itu adalah masalah klasik yang terjadi sekian puluh tahun yang lalu, lalu selama ini tidak adakah sebuah usaha yang ditemukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut walaupun itu sekarang sudah terus di kembangkan dan itu belum menghasilkan hasil yang memuaskan. Kalau hal itu masih sama bahkan sampai sekarang ini maka kali ini saya bisa katakan bahwa pemerintah gagal dalam menciptakan tujuan dari pendidikan itu sebenarnya.
            Kalau seandainya kita bisa belajar dari pendidikan di Finlandia kenapa pendidikan di negara tersebut maju, salah satu alasannya adalah karena pemerintah mereka menciptakan sebuah gagasan seperti kurikulum yang sangat bagus dan berkualitas sehingga pendidik sebagai guru memiliki acuan pendidikan yang bagus dan menghasilkan calon pendidik yang berkualitas, jadi pada masalah ini saya pikir peran pemerintah sangat di butuhkan disamping keluarga dan lingkungan sekitarnya.
           


Refleksi diri saya dari puisi Seonggok Jagung Karya ,W.S Rendra Refleksi diri saya dari puisi Seonggok Jagung Karya ,W.S Rendra Reviewed by Richardo daviD on 10:16 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.